Tarian Di Atas Ombak Karya Saffa Lutfita Putri

Di pesisir Kabupaten Batang, di sebuah desa kecil yang tenang, dan bersahaja, hiduplah seorang gadis kelas XI SMA bernama Mira. Gadis berkulit sawo matang dengan mata almond yang jernih dan rambut hitam pendek yang sering ia hias dengan pita merah  sederhana. Ia tinggal bersama ke dua orang tuanya―Ayah bekerja sebagai seorang nelayan, dan ibu penjual serabi dan nasi megono di pasar desa.

Sejak kecil Mira menyukai dan menggemari seni tari. Bakat itu ia warisi dari mendiang neneknya, seorang penari tradisional. Di sekolah, Mira juga mengikuti ekstrakullikuler tari yang mendukung bakat dan hobinya itu. Biasanya di waktu setelah bel pulang sekolah berbunyi, dan dia tidak memiliki waktu ekstra, alih-alih ikut teman-temannya bermain, Mira justru selalu menyelinap ke sebuah tempat favoritnya yang sudah sangat dihafal oleh kakinya―sebuah pantai kecil yang sepi tak jauh dari rumahnya. Dan di situlah rahasianya tersimpan—Kebiasaan menari di atas ombak kecil di bibir Pantai yang tenang, menyatu dengan suara ombak dan angin laut. Di bawah langit yang luas. Baginya, menari bukan sekedar hobi tapi ketenangan dalam bentuk gerakan tubuh. Mira mulai melepas sepatu dan kaos kakinya, dia mengeluarkan selendang mendiang neneknya, Mira membiarkan ombak menerjang kakinya dan menari dengan penuh antusias sembari menikmati suasana tenang itu.

Namun, kedamaian yang selama ini menyelimuti hidupnya runtuh seketika pada hari ketika bumi berguncang hebat.

Pagi itu, Langit terlihat muram, Mira sedang sendirian di rumah dan menunggu ke dua orang tuannya pulang. Mira duduk di teras rumahnya sembari mengamati sekitarnya saat gempa besar tiba-tiba mengguncang. Tanah bergetar hebat, dinding rumah berderak, dan suara teriakan panik tetangga dari segala arah memenuhi udara, Mira langsung berlari menjauh dari bangunan rumahnya dan teringat kepada orang tuanya—ayah di laut, ibu di pasar.

Ia berlari menuju pasar yang tak jauh dari rumahnya. Saat Mira sampai di pasar dia melihat dan merasakan suasana yang kacau balau: banyak orang panik dan berlarian, bangunan rusak, barang yang berserakan.  Dengan nafas yang tersengal Mira berteriak memanggil ibunya.

“Ibu! Ibu!, Ibu di mana?!”

Di antara reruntuhan warung kecil, Mira menemukan ibunya yang tertimpa kayu lapuk. Dengan sekuat tenaga ia menyingkirkan puing-puing dan menolong ibunya yang terluka pada kakinya. Syukurlah ibu selamat meski harus menjalani perawatan di posko.

Namun, kabar tentang kondisi ayah belum ada. Gempa yang mengguncang ternyata berpusat di laut, tempat ayahnya melaut. Ibu menenangkan ke khawatir-an Mira meski dirinya pun juga khawatir. Hari berikutnya menjadi kelabu, banyak warga yang berduka karena dampak dari gempa. Mira sendiri kehilangan semangat dan ketenangannya, dia duduk termenung di tepi pantai tempatnya menenangkan dirinya dan memeluk selendang batik milik mendiang neneknya yang sudah diwariskan kepada Mira. Hati Mira cemas, pikirannya sesak oleh ketidakpastian.

Ditengah-tengah kegelisahan, Mira teringat pesan dari mendiang neneknya.                                          “Nduk, nek nari kuwi iso nggawe ati tenang. Coba terus selagi urip ojo mandheg.”

(Nak, kalau menari itu bisa membuat hati tenang. Coba terus selama masih hidup jangan berhenti.)

Kata-kata yang dulunya membuat Mira tergerak untuk menari. Dan sekarang Mira berdiri dari duduknya dengan air mata yang menetes lalu melangkahkan kakinya menuju gelombang ombak yang mulai membasahi kakinya dengan niatan membuat hatinya sedikit tenang. Mira mulai menari dengan penuh leluasa, gerakannya menggambarkan isi hatinya yang sedang pilu dan pikirannya yang lelah serta doa untuk keselamatan ayahnya.

Seminggu setelah gempa. Pemerintah daerah bersama seniman lokal mengadakan Festival Seni Batang sebagai bagian dari pemulihan semangat masyarakat.

Ibu Mira yang masih pincang menyuruh putrinya untuk ikut tampil bersama teman-temannya, “Mira, kamu milu tampil karo konco-koncomu yo nduk.”

(Mira, kamu ikut tampil bersama teman-temanmu ya nak..)

Awalnya Mira menolak.

“Mboten bu, aku rak sanggup.”

(Tidak bu, aku tidak sanggup)

Mendengar putrinya yang terlihat tidak semangat itu, ibunya lalu menuntun  Mira keluar memperlihatkan kehidupan desa pasca gempa kepada Mira, sesuatu yang membuat Mira mulai sadar.

“Deloken, Nduk,” kata ibunya pelan. “Walau padha susah, wong-wong kuwi ora mandheg coba tangi maneh.”

(Lihatlah, Nak. Meski mereka susah, mereka tidak berhenti untuk bangkit.)

Sesampainya di sanggar tari, Mira melihat teman-temannya sedang berlatih. Mereka juga kehilangan―ada yang rumahnya roboh, ada yang belum menemukan anggota keluarganya. Namun mereka tetap bersemangat. Setelah melihat warga masyarakat yang terlihat semangat dan teman-temannya latihan untuk menghadiri acara tersebut membuat Mira sadar bahwa semua orang sedang berusaha bangkit, Mira juga belajar bahwa menyerah bukanlah pilihan. Ia pun memutuskan untuk ikut menari dan bergabung dengan teman-temannya yang sedang latihan, Mereka meragakan tarian yang biasa Mira tari kan saat di atas ombak.

Malam festival tiba dan cuaca saat itu cerah, bulan bersinar dengan terang, Lapangan dipenuhi dengan lampu-lampu berkilau dan orang-orang, dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Di sana terdapat stan kuliner lokal, pameran batik khas Batang, dan juga kerajinan kriya khas kawasan Batang berjajar rapi, dan gamelan mulai ditabuh, Mira dan teman-teman satu sanggar tarinya melangkah ke panggung dengan pasti. Selendang batik mendiang neneknya Mira kenakan dengan bangga. Di Tengah panggung, ia dan teman-temanya menari. Gerakan tangannya lentik, kakinya mantap, matanya menatap jauh seakan mencari ayah di horizon. Mereka bercerita melalui gerak tubuhnya―tentang kehilangan, ketakutan, harapan, dan kekuatan untuk bangkit.

Dan saat Mira dan teman-temannya menutup tarian dengan Gerakan terakhir―membentangkan selendang ke arah laut―solah mengirim doa kepada ayahnya sembari merasakan angin bertiup lembut membasuh wajahnya. Penampilan yang mengagumkan dari Mira dan teman-temannya itu membuat orang-orang yang menyaksikan terdiam dan bertepuk tangan meriah. Mira tersenyum meriah, mata nya berkaca-kaca karena harapan, ia masih mengharapkan ayahnya selamat dan kembali.

Festival berakhir dengan kembang api yang meriah di lapangan, semua orang terlihat bergembira. Di antara gemerlap itu, Mira berdiri di samping ibunya, mereka menikmati langit yang penuh kembang api itu. Sampai tiba-tiba di tengah keramaian itu ada yang menepuk pundak mereka berdua dan membuat Mira dan ibunya serentak menoleh ke arah seseorang tersebut. Nafas mereka tercekat. Mata mereka mencerminkan keterkejutan dan kelegaan. Mira meneteskan air mata saat melihat bahwa seseorang yang menepuk pundaknya adalah ayahnya.

“Bapak?!”

(Ayah?!)

Ayahnya berdiri di sana, terlihat lelah, kurus, tapi hidup. Seketika keluarga kecil itu menumpahkan segala kerinduannya di bawah langit yang berhias kembang api. Mira memeluk ayahnya erat sambil menangis. Ibu mereka menyusul, dan di bawah langit dihiasi kembang api, mereka bertiga berpelukan―hangat, utuh, penuh rasa syukur.

Malam itu, Mira paham satu hal―seperti ombak, hidup akan terus bergerak. Jatuh, bangkit, lalu bergerak lagi.

Di akhir, keluarga kecil itu menikmati kembang api dengan perasaan yang lega dan gembira.

 

TAMAT-.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top