Langit senja di Pantai Jodoh mulai memeluk cakrawala dengan warna jingga dan ungu disertai dengan matahari yang perlahan-lahan bersembunyi diujung barat,menciptakan lukisan yang indah dilangit membuat siapa-saja yang melihatnya terdiam seolah terhipnotis karenanya.
Ombak berdekap pelan dengan pasir pantai menciptakan suara deburan ombak yang berirama,angin mulai menari-nari diudara menyapa setiap Pohon yang ada seolah mengajaknya menari bersama,melodi yang harmonis tercipta dari ombak dan angin membuat suasana menjadi berirama yang menenangkan hati.seperti bisikan abadi yang tak pernah berubah.
Namun tidak demikian bagi seorang pria berambut perak yang sudah berumur panjang tetapi postur tubuhnya masih tetap tegap,didalam tatapan matanya terlihat kosong seakan tubuh dan jiwanya berada ditempat yang berbeda. Di tangan seorang pria berambut perak itu,setangkai bunga kamboja putih bergoyang lembut ditiup angin. Bunganya masih sama,putih bersih dengan hati kuning,harumnya membawanya melayang pada sebuah janji dan perpisahan pahit yang merobek jiwa.
Tahun 1965. Batang dilanda kegelisahan yang tak terucap. Aku(Karman) dan dia(Irma),kami adalah dua kuntum bunga dalam taman yang sama-sama kami rawat. Cinta kami tumbuh subur di antara rindangnya pohon kelapa dan deru ombak Pantai Jodoh. Di sinilah,di bawah rindangnya pohon waru,aku selalu menunggunya. Irma, wanita cantik berkulit sawo matang yang eksotis dengan kebayanya yang sederhana dan senyum yang merekah di wajahnya,selalu datang membawaku semangat dan secangkir kopi hangat.
“Kamboja Man” bisiknya suatu sore,Aku memungut bunga yang baru gugur. “Bunganya cantik dan harum,tak peduli di mana ia jatuh. Seperti cinta kita ‘Abadi'”ucapku sambil tersenyum menatapnya lembut,Aku meletakkan bunga itu di telinganya.
“Aku akan selalu membawakanmu kamboja,Sebagai pengingat bahwa di mana pun aku,cintaku hanya untukmu”ucapku sambil menggenggam tangan Irma dan menatapnya dalam,Irma pun tersipu dan membalasku dengan tersenyum.
Dunia kami yang tenang itu runtuh pada pagi tanggal 1 Oktober 1965,kabar buruk menyebar bagai kabut racun. “G30S/PKI” kata-kata itu menjadi hantu yang meneror. Suasana menjadi mencekam penuh kecurigaan,Ayahku seorang juru tulis yang pernah membantu seorang anggota Lekra menyalin naskah,tiba-tiba menjadi target.
Mereka datang malam itu,suara bentakan dan pintu yang dihancurkan menggema diluar rumahku. Aku dan keluargaku ketakutan pada waktu itu,Ayahku yang merupakan kepala keluarga berniat melawan mereka seorang diri demi keluarganya,Ibuku membawa Aku dan Adik perempuanku Wulan ke kamarku dia membuka jendela dan mengisyaratkan kepada kami berdua untuk melompat keluar.
Aku berhasil melompat dari jendela kamarku,hati berdebar kencang. Bukan untuk menyelamatkan diri sendiri,tapi karena janjiku pada Ibu sebelum dia mendorongku pergi”Jaga adikmu, Man! Lindungi dia!”. Awalnya aku menolak meninggalkan Ibu dan Ayah namun ketika melihat Wulan yang masih kecil terus menangis aku tidak punya pilihan lain,dengan berat hati aku meninggalkan Ayah dan Ibuku.
Setelah cukup jauh dari rumah aku menoleh kebelakang,aku melihat rumahku sudah hancur,Ayah terbunuh saat melawan mereka seorang diri,Ibu berteriak histeris melihat Ayah yang sudah tak bernyawa dan akhirnya Ibu dan jasat ayah dibawa mereka pergi. Melihat itu Aku gemetaran antara takut dan marah menjadi satu, Aku tidak bisa berbuat banyak tugasku sekarang menjaga Adik kecilku Wulan satu-satunya keluarga yang Aku milik.
Aku menemukan Irma dipantai tempat biasa kami bertemu. Dia terlihat sedang berdiri melihat pemandangan pantai yang tenang disinari oleh sinar cahaya bulan purnama,warna pantai nampak bersinar biru cerah terlihat cantik dan menawan. Belum sempat aku memanggilnya dia sudah terlebih dulu berbalik ke arahku, seolah dia sudah tahu kalau aku datang, dia tersenyum manis kearahku sambil melambaikan tangganya memintaku mendekat kearahnya.
“Ada apa Karman, tumben sekali malam-malam kau datang kesini ?” tanya Irma keheranan. Aku menghela nafas panjang,aku mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada keluargaku kepada Irma. Ku curahkan semua emosiku marah,sedih,takut,dan kehilangan semuanya bercampur menjadi satu. Ia memelukku saat aku merasa terpuruk,aku pun tak kuasa menahan air mataku karenanya,aku membalas pelukannya erat.
Wajahnya pucat mendengar ceritaku “Kau harus pergi Man” desisnya, matanya berkaca-kaca. Aku melepas pelukannya dan menatap matanya.
“Aku tidak bisa meninggalkanmu,” bantahku.
“Kamu harus! Jika kamu ditangkap semuanya akan berakhir. Pergilah,selamatkan dirimu dan adikmu. Aku akan bertahan. Aku akan menunggu”.ucapnya dengan wajah yang khawatir dan takut secara bersamaan.
Dengan hati hancur,aku menyelipkan sekuntum kamboja terakhir ditelinganya. “Aku akan kembali,Mah. Cari aku di sini,Suatu hari nanti Aku pasti akan kembali”ucapku sambil memeluk dia untuk terakhir kalinya,kami berdua menangis didalam pelukan masing-masing.
Dibawah sinar bulan malam itu,dengan suara deburan ombak dan hembusan angin dipantai mereka berdua berpelukan erat terhanyut dalam perasan masing-masing, perasaan yang takut kehilangan kekasihnya dan takut tidak bisa bertemu kembali nantinya.
Perjalananku bukan sekadar pelarian,tapi sebuah pengabdian. Aku membawa adik perempuanku yang masih kecil “Wulan”,mengembara dari satu kota ke kota lain. Aku bekerja sebagai kuli pelabuhan di Semarang,buruh pabrik teh di Pekalongan,dan penyadap kelapa di Brebes. Pekerjaan kasar yang tak pernah kupikirkan sebelumnya,semua untuk menghidupi Wulan dan menyekolahkannya.
Setiap malam,ketakutan akan identitas kami terbongkar menghantuiku. Setiap kali melihat bunga kamboja,kerinduan pada Irma membakar dadaku. Aku mengubur dalam-dalam nama “Karman” dan hidup sebagai “Surya”,seorang pengungsi biasa yang korban pergolakan.
Tahun-tahun bergulir. Wulan berhasil menjadi seorang perawat dan menikah dengan pria baik. Orde Baru berkuasa,tapi luka dan stigma itu masih melekat. Aku tak pernah berani kembali,takut justru membawa malapetaka bagi Irma. Bagaimana mungkin aku menikah? Hatiku telah kutinggal di sebuah pantai di Batang,bersama seorang gadis dengan bunga kamboja di telinganya.
Terliha pantai yang sangat indah didepan sana. Langit sore yang berwarna oranye berpadu dengan warna merah dan ungu dengan hiyasan awan-awan yang tertata rapi,terlihat bagaikan lukisan yang indah menjadi nyata.
Suara deburan ombak yang menyentuh bibir pantai yang berirama bersatu dengan hembusan angin yang menerpa pepohonan dan juga kulit,membuat perasaan menjadi tenang dan terkagum-kagum akan keindahan pantainya.
Seorang peria yang berumur sedang menatap pantai itu sangat lama, seolah-olah dia sudah lama tak melihat keindahan pantai,dari sudut matanya terlihat kosong dan memendam perasan yang dalam dan sulit diutarakan.
Sekarang,setelah lebih dari Tiga puluh tahun,dengan keberanian yang kupupuk selama berbulan-bulan,aku kembali. Kaki tua ini membawaku kembali ke Pantai Jodoh. Semuanya berubah,tapi rasa rindu ini tetap sama. Aku duduk di sebuah bangku,memandang laut yang tak pernah berubah,menggenggam kamboja yang kupetik dari sebuah pohon di pinggir jalan.
Aku kembali untuk menepati janjiku pada Irma, wanita yang sangat aku cintai dari dulu sampai sekarang. Lama aku menunggu tak terlihat juga batang hidungnya, mungkin kan dia sudah melupakanku,mungkin saja dia sudah mendapatkan penggantiku,dan mungkin sekarang dia sudah bahagia dengan pasangannya.
Begitu banyak pikiran buruk dan kemungkinan-kemungkinan yang kupikirkan, harusnya aku memberanikan diri datang kesini lebih cepat,mungkin saja aku dan Irma bisa bersama,aku mengutuk diriku sendiri yang seperti pecundang tega meninggalkan kekasihnya untuk kabur.
Hari sudah semakin soren dan berganti malam, haruskah aku kembali?,tapi bagiamana dengan Irma jika nanti dia datang. Aku memutuskan untuk menunggu lebih lama,untuk kembali mengenang tempat yang bersejarah bagiku dan Irma, walaupun mungkin tidak bisa diulang kembali.
Dan kemudian, seperti mimpi,seorang wanita dengan rambut seperak perak berjalan pelan di sepanjang pantai. Langkahnya tenang,matanya menerawang,seolah mencari sesuatu atau seseorang. Ada kesunyian yang sama di matanya,kesedihan yang kupahami.
Dia mendekat. Napasku tertahan,wajahnya telah diukir waktu,tapi matanya… mata itu adalah mata Irma. Mata yang dulu selalu bersinar melihatku. Dia berhenti beberapa langkah dariku,pandangannya tertuju pada bunga kamboja di tanganku,bibirnya bergetar.
“Karman?” suaranya lirih,hampir tak terdengar,seperti takut mengusir bayangan.
“Irma!” gumamku,suaraku serak oleh Tiga dekade kerinduan dan pengorbanan. Aku berdiri,tubuh tua ini gemetar.
“Aku… aku pulang” Air mata mengalir deras di wajahnya yang keriput. Dia mengangguk pelan,tangannya terangkat seolah ingin memastikan aku nyata. “Aku tahu kau akan kembali. Aku selalu menunggu. Setiap tahun,di tanggal kita berpisah aku datang ke sini”.
“Aku minta maaf,Mah. Aku membuatmu menunggu terlalu lama. Bukan karena aku lupa,tapi…”ucapku terputus saat jari Irma menyentuh bibirku.
“Diam”,bisiknya lembut,tangannya yang ringkih kini menggenggam tanganku yang kasar dan berkapur. Sentuhannya masih menghangatkan jiwa yang lama membeku. “Aku tahu. Aku selalu tahu kau punya alasan. Yang penting kau kembali, dan kau selamat. Janjimu… kau ingat?”
Dengan hati-hati,seperti memegang embun pagi,aku mengangkat bunga kamboja itu dan dengan gemetar menyelipkannya di balik telinganya yang telah beruban. Sebuah isak lega meledak dari dadaku. “Kamboja. Sebagai pengingat,cintaku abadi,Selamanya”.
Dia tersenyum,sebuah senyum yang masih secantik senja. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah buku tua. Saat dibuka,di antara halaman-halaman yang menguning,terselip sebuah kamboja kering,rapuh,dan nyaris hancur. Bunga yang kuberikan padanya tiga puluh tahun yang lalu.
“Dan cintaku”,bisik Irma menatapku dengan cahaya yang kembali menyala di matanya,”juga abadi. Selamat datang kembali,Karman”, ucapnya sambil tersenyum.
Mereka duduk berdekatan di bangku itu, tangan terikat,menyaksikan matahari benar-benar terbenam. Dua jiwa yang terpisah oleh badai sejarah,masing-masing telah bertahan dengan caranya sendiri,satu dengan mengarungi lautan pengorbanan,satu dengan berakar pada janji kesetiaan.
Mereka duduk dalam hening,hanya diiringi debur ombak yang tak pernah berhenti bernyanyi. Dua pasang mata yang sama-sama berlinang,dua hati yang akhirnya menemukan rumahnya kembali.
“Tidakkah kau menikah,Mah?” tanyaku penuh harap.
Dia menggeleng,senyum kecil mengembang di bibirnya. “Aku sudah punya suami. Namanya Karman. Dia berjanji akan kembali,dan aku percaya”.
“Banyak yang melarangku menunggumu”ucapnya terputus “Tapi aku percaya kau akan kembali Karman”ucapnya sambil tersenyum.
Kalimat itu membuat air mataku akhirnya tumpah. Aku memeluknya erat,seperti takut kehilangan lagi. Tubuh ringannya gemetar dalam pelukanku.
“Maafkan aku” isakku. “Maafkan aku untuk semua tahun yang terbuang”.
“Sudah jangan” balasnya sambil membelai rambutku yang memutih. “Kau di sini sekarang,itu yang penting”.
Senja semakin pekat ketika akhirnya kami beranjak dari bangku itu. Tangan kami tetap bergandengan,seperti dua remaja yang baru jatuh cinta.
“Kau tinggal di mana?” tanyaku.
“Masih di rumah lama. Tapi sekarang sudah direnovasi” jawab Irma. “Dan kau?”
“Aku tinggal dengan Wulan di Semarang. Tapi…” aku menatapnya, “jika kau mengizinkan,aku ingin tinggal di Batang. Kembali ke rumahku”.
Irma tersenyum. “Rumahmu masih ada. Tetanggaku yang merawatnya. Mereka selalu bilang,suatu hari nanti si Karman pasti pulang.”
Kami berjalan pelan menyusuri pantai,jejak kaki kami berdua tertinggal di pasir. Seperti melengkapi jejak kaki dari tiga puluh tahun yang lalu yang terhapus ombak.
“Besok” kata Irma tiba-tiba,”aku akan membuatkanmu kopi,Seperti dulu”.
“Dan aku akan membawakanmu kamboja segar setiap pagi” janjiku.
Sampai di ujung pantai,kami berhenti sebentar. Irma memandangku,matanya berbinar dalam cahaya senja yang tersisa.
“Selamat datang kembali,Karman” katanya lagi,seolah tak percaya bahwa ini bukan mimpi.
“Terima kasih telah menunggu Irma” jawabku. “Terima kasih untuk kesetiaanmu”.
Mereka berjalan meninggalkan Pantai Jodoh,tangan tak lagi terpisah. Di bangku yang mereka tinggalkan,seuntai kamboja putih masih terbaring,menyimpan kisah tentang cinta yang bertahan melampaui badai sejarah,tentang pengorbanan dan kesetiaan,tentang dua hati yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Langit semakin gelap,tetapi bagi Karman dan Irma,matahari justru baru terbit,matahari kebahagiaan yang mereka tunggu selama tiga puluh tahun. Sebuah akhir yang manis untuk perjalanan panjang yang penuh derita,dan sebuah awal baru di senja kehidupan mereka.
TAMAT.
