Matahari bersinar bagaikan harapan baru yang hangat, ditengah hutan yang dipenuhi pepohonan ada seorang remaja berumur 18 tahun yang memiliki hobi menggambar, ia selalu pergi ke hutan untuk menggambar keindahan hutan itu,namanya Pandu Pratama. Setelah gambarannya selesai Pandu ingin kembali kerumahnya. Di perjalanan menuju keluarnya dari hutan yang indah itu ia berpikir.
“Andai aku bisa pergi ke masa lalu,untuk menggambar tanaman yang sekarang sudah tidak ada, tapi bisa tidak ya? ahh tidak mungkin, itu kan hanya di film saja.”
Setelah memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi Pandu melihat bunga magnolia, bunga dengan spesies langka. Pandu bergegas untuk menggambar keindahan bunga itu. Disaat gambarannya mau selesai,tiba tiba dihadapannya ada sosok kakek yang memakai baju putih yang memiliki aura misterius. Pandu pun kaget padahal di hutan itu tidak ada siapa-siapa hanya dirinya saja dengan peralatan menggambarnya.
“Anak muda kamu suka menggambar ya?” Ujar Kakek itu dengan melihat wajah Pandu dengan tatapan tajam.
“Iya kek saya suka sekali menggambar.” Pandu ketakutan karena tatapan kakek itu semakin tajam.
“Apakah kamu mau membantuku nak?”
“Membantu apa kek? Apapun itu kek,saya bersedia.”
Setelah Pandu mengatakan bersedia membantu apapun itu,tatapan kakek itu berubah menjadi hangat. Akhirnya kakek itu menyuruh Pandu untuk menyentuh bunga magnolia itu. Belum ada 7 detik Pandu merasakan aneh dengan tubuhnya, tiba-tiba ada cahaya berwarna putih yang membuat pandangan Pandu tidak bisa melihat keadaan sekitar dan sakit kepala yang luar biasa. Disaat Pandu membuka matanya secara pelan-pelan ia merasakan hal yang aneh pada dirinya.
“Bantu kakek untuk menggambarkan keadaan disini ya,setelah sudah selesai kembalilah kesini.”
Pandu pun terheran-heran dengan kata si kakek “kembalilah kesini”.
“Bentar kek,kembalilah kesini maksud kakek saya harus menggambar seluruh hutan ini?atau bagaimana kek?”
“Kamu nanti akan tahu sendiri, ini tahun 1980,jadi kita kembali ke masa lalu.”
Pandu kaget mendengar ucapan kakek, tanpa ia sadari bajunya pun berubah jadi gaya tahun 1980 an dan handphonenya tiba-tiba hilang. Melihat wajah Pandu yang kepanikan kakek itu mencoba menenangkan Pandu.
“Handphonemu akan kembali jika kamu telah melaksanakan apa yang kakek mau dan kamu akan kembali ke masa depan, hadap ke belakang carilah apa yang bisa digambar.”
Pandu pun mengikuti arahan kakek itu untuk menghadap ke belakang dan beberapa detik kemudian kakek itu menghilang,Pandu semakin panik namun dengan keberaniannya ia berjalan terus untuk mencari objek yang akan ia gambar.
Pandu bingung objek apa yang harus dia gambar, disaat ia berjalan dihutan yang hening ia mendengar suara yang aneh , Pandu kebingungan suara apa itu, harimau?, atau Beruang?. Pandu langsung lari takut kalau dirinya dimakan hewan buas, dan tiba tiba ia menabrak sesuatu yang ada di depannya dan akhirnya pandu jatuh.
“Kalau lari tuh hati-hati mas,pakai mata biar tidak nabrak orang yang ada di depannya, orang lagi jalan ditabrak.”
“Maafkan saya bu, saya tidak sengaja.” Pandu menundukkan wajahnya.
“Hah? Bu? Saya masih muda, belum nikah juga,emang kelihatannya sudah tua?” wajah Perempuan penuh dengan kesal
“Ohhh masih muda ya,maaf ya kak,tidak sengaja, nanti saya traktir kamu es krim deh.”
“Es krim? Benda apa itu?” Perempuan itu terheran-heran, baru pertama kali ini ia mendengar kata es krim.
“Waduhh keceplosan lupa kalau ini masa lalu, jawab apa ini.” Pandu panik ia harus jawab apa.
“Lupakan saja kak, mau nanya ini setelah hutan ini ada desa tidak?” Pandu langsung mengalihkan topik pembicaraannya dengan cepat.
“Desa Keteleng mas, mas orang baru ya disini?”
Setelah mengetahui ia berada di Desa Keteleng, Pandu lega setidaknya dirinya masih ada di Kabupaten Batang walaupun beda waktu. Pandu mengenalkan dirinya ke Perempuan desa itu, namun Pandu menyembunyikan bahwa dirinya dari masa depan dan hanya menyebutnya dirinya dari Desa Rowobelang. Perempuan itu mengajak Pandu ke Desa keteleng, diperjalanan perempuan itu mengenalkan dirinya bahwa namanya Wulan. Bagi Pandu namanya indah seperti wajahnya,saat pandangan pertama Pandu merasakan bahwa wajah Wulan sungguh indah jika digambar,memiliki 2 tai lalat dibawah mata kanannya sebagai pemanis wajahnya.
Pandu dan Wulan telah sampai di Desa Keteleng, tampak desa itu asri,tenang dan damai, warga di desa ini kelihatan baik dan ramah. Tetapi ada yang membuat ia merenung, dirinya harus tinggal dimana untuk sementara, tidak mungkin ia harus membuka matanya pagi sampai pagi lagi, dengan memberanikan dirinya pandu menanyakan ke Wulan.
“Wulan apakah ada……” Perkataan Pandu terpotong oleh Wulan.
“Tenang saja saya tahu bahwa kamu butuh tempat tinggal kan? Kebetulan ada rumah kosong di samping rumahku, kamu bisa menempatinya.” Wulan tersenyum ke Pandu ,tanpa berselang lama Wulan mengajak Pandu kerumah kosong itu.
Setelah sampai di rumah kosong itu, Wulan pamit bahwa dirinya harus kembali ke rumah dulu agar orang tuanya tidak khawatir pada dirinya. Pandu yang kebingungan hal apa yang harus ia digambar, pemandangan desa ini? atau tanaman teh yang tumbuh di sekitar desa keteleng? Pandu bingung, ia berpikir secara keras apa yang harus digambar. Tiba-tiba Wulan datang dan mengajak Pandu untuk menonton sintren nanti malam, Pandu pun mengiyakan ajakan Wulan. Di masa depan jarang ada sintren, dengan kembalinya ia di masa lalu dia melihat sintren lagi setelah sekian lama ia tidak melihat lagi, seingat pandu terakhir dirinya melihat sintren diumur 9 tahun. Wulan kembali kerumahnya untuk mengambil makanan untuk Pandu, Pandu tersenyum menyadari Wulan sangat baik dengan dirinya padahal baru saja kenalan, jantung Pandu berdebar-debar, muka Pandu memerah, dirinya bingung perasaan apa ini?. Dibalik jantungnya berdebar dengan cepat, pikiran Pandu terlintas untuk menggambar suasana Desa Keteleng dimulai dari masyarakatnya, keindahan alamnya, dan budaya yang ada di desa ini, Pandu pun senang akhirnya dia menemukan ide untuk gambarnya akan ia berikan ke kakek itu, namun ada yang membuat Pandu sedih, dengan memberikan gambarnya ke kakek itu ia akan berpisah dengan Wulan.
Malam hari pun tiba dengan bulan purnama yang memiliki cahaya yang indah dengan dikelilingi oleh bintang-bintang ada di luar angkasa sana. Pandu menuju ke rumah Wulan untuk menjemput Wulan namun dihadapannya ada Ayah Wulan yang memiliki wajah yang tegas.
“Kamu anak yang dimaksud Wulan ya? siapa namanya? Ohh Slamet.”
“Nama saya Pandu om bukan Slamet.”
Pikiran pandu wajahnya Ayah Wulan tidak sesuai dengan karakternya yang pelawak ini, Pandu kira Ayah Wulan galak ternyata tidak, beliau murah senyum dan suka bercanda orangnya, mirip dengan putrinya, Wulan.
“Wulan keluar nak,pacarmu ini sudah jemput ini.”
“Om saya bukan pacarnya hanya teman,hehe.”
“Ya suatu saat nanti pasti bakal jadi pacarnya kok.”
Wulan akhirnya keluar dan menemui Pandu di depan rumahnya, Pandu terpesona dengan kecantikan Wulan, walaupun di masa ini belum ada maskara dan blush on, tapi wajah Wulan sungguh indah hingga membuat Pandu terdiam beberapa menit dengan wajahnya yang memerah.
“Pandu kamu sakit? Kok wajah kamu merah?”
“Oo tidak, cuman pusing saja .”
“Pusing atau suka lihat kecantikan anak saya?”
“Ayah cukup Wulan malu.” Wajah Wulan sedikit memerah.
Akhirnya Pandu dan Wulan pergi untuk menonton sintren, Wulan bingung kenapa Pandu membawa alat gambar padahal mau nonton. Wulan menanyakan kenapa Pandu membawa alat gambar.
“Saya nanti mau menggambar keadaan masyarakat sini saat menonton sintren , pasti ini momen yang bagus.”
Wulan kagum laki-laki yang ia temui tadi ternyata memiliki bakat dibidang seni gambar. Tibalah mereka di tempat diselenggaranya sintren,Pandu langsung menggambar disaat itu, menurut Pandu ini momen yang sangat pas jika ditunda takutnya nanti tidak akan sebagus ini, ia memanfaatkan momen itu dengan baik. Wulan terpesona dengan gambarnya Pandu yang kelihatan bagus, tetapi ada satu hal yang membuat Wulan bingung kenapa ada tempat yang masih dikosongi, padahal dikertas itu bisa diisi semua. Pandu pun menjawab bawah nanti akan disini dengan keindahan alam Desa Keteleng, Wulan pun memberikan ide bahwa besok akan mengajak Pandu ke suatu tempat, dan Pandu pun setuju.
Keesokan hari, Pandu pamit dengan kedua orang tuanya Wulan, namun wajahnya kelihatanya sedih bahwa kemungkinan dihari ini dirinya akan kembali ke masa depan dan akan meninggalkan Wulan. Wulan yang menyadarinya menanyakan apakah Pandu baik-baik saja, tetapi Pandu menjawabnya dengan penuh senyuman bahwa dirinya baik-baik saja. Akhirnya mereka berangkat.
Ternyata Wulan mengajak Pandu ke suatu tempat yang indah yaitu Kebun Teh Pagilaran, saat itu belum ada wahana seperti yang ada di masa depan Kebun Tehnya masih kelihatan asri, indah dan tenang, akhirnya Pandu mengajak Wulan untuk duduk di sampingnya untuk melihatnya dirinya menyelesaikan gambar yang kemarin.
“Akhirnya selesai juga, bagaimana Wulan bagus kan?”
“Bagus sekali Pandu, kamu emang jago gambar.”
“Oh iya kalau tidak keberatan apakah boleh saya menggambar wajahmu yang manis itu?”
“Pandu? Boleh boleh.”
Akhirnya Pandu sudah menyelesaikan gambarannya yaitu gambar wajah Wulan, gambar keindahan Desa Keteleng dan gambar dirinya sendiri yang ia gambar tadi malam sebelum tidur.
Dengan selesainya tugas gambarnya, bertanda ia harus berpisah dengan Wulan,Pandu mengajak Wulan ke tempat pertama dirinya kemari.
“Pandu, kenapa kamu membawa aku ke tempat ini? dan kenapa wajah kamu sedih?”
“Sebelumnya Wulan, kamu dari sini tahu jalan pulangnya kan?” ujar pandu yang sambil menahan air matanya
“Kamu meremehkanku? Wulan nih tahu jalannya pulangnya, jangan bilang kamu lupa, dasar pelupa.”
Pandu yang tidak sanggup menahan air matanya, ia menangis di depan Wulan dan mengatakan ia harus pulang dan akan berpisah dengan Wulan selamanya. Wulan kaget mendengar kata selamanya.
“Wulan, aku dari masa depan, tujuan aku kesini Adalah tugas dari seorang kakek untukk menggambar keindahan Desa Keteleng, Terima Kasih berkat dirimu aku bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik dan aku jadi tahu bahwa Desa Keteleng dan Kebun The Pagilaran seindah itu.” Pandu menatap Wulan seakan-akan tidak mau meninggalkannya.
“Kalau aku tahu ini dari awal ,aku tidak akan membantumu, biarlah kamu hidup di masa lalu, dasar laki laki….” Perkataan Wulan dipotong oleh Pandu.
“Aku mencintaimu,dari awal aku terpesona denganmu,terima kasih telah hidup Wulan,teruslah tersenyum.”
Dan dari arah belakang kakek itu kembali dan mengatakan terima kasih telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Pandu menyerahkan gambarnya ke Kakek dan Pandu memberikan Wulan gambar wajah Pandu dengan harapan Wulan bisa mengingat Pandu selamanya. Pandu dan Wulan saling berpelukan dan menangis sejadi-jadinya
“Aku mencintaimu Pandu.”
“Jika kamu bertemu dengan laki-laki lupakan aku, namun gambar wajahku jangan dibuang simpan dengan baik-baik.”
Cahaya berwarna putih itu kembali yang menandakan ia akan kembali ke masa depan. Setelah membuka matanya,Handphonenya telah kembali, gaya pakaianya kembali ke semula. Kakek itu berterima kasih bawah berkat dirinya dia bisa melihat pemandangan itu, kakek itu ternyata sudah meninggal tahun 1800 an dan dia rindu dengan pemandangan itu.
Beberapa tahun kemudian, ketika Pandu merindukan sosok Wulan, dia selalu pergi ke Kebun Teh Pagilaran untuk mengobati rasa rindunya.
“Kamu selalu abadi dihatiku Wulan.”
